Lo pernah nggak sih, buka daftar friend list di game lama, terus nemu satu nama yang udah lama nggak online? Bukan karena sibuk. Bukan karena pindah game. Tapi karena orang di balik nama itu udah nggak ada lagi di dunia nyata. Dan lo—anehnya—nggak tega ngehapus namanya. Rasanya kayak nghilangin satu-satunya bukti bahwa dia pernah ada.
Di 2026 ini, perasaan itu bukan lagi hal pribadi yang disembunyiin. Dia udah jadi komoditas. Ada pasar yang mulai terbentuk dari kenangan pemain yang udah meninggal. Akun-akun mereka, item-item yang mereka kumpulin bertahun-tahun, bahkan nama di friend list yang udah nggak pernah nyala lagi—semuanya mulai diperdagangkan. Bukan cuma sebagai aset digital. Tapi sebagai memori. Dan itu bikin gue—dan mungkin lo juga—mikir: sejak kapan duka jadi barang dagangan?
Ketika Akun Bukan Lagi Soal Item, Tapi Soal Siapa yang Pernah Ada
Coba pahami dulu kenapa akun game orang meninggal itu punya nilai yang aneh. Sebuah studi dari Universitas Gothenburg nunjukin sesuatu yang bikin merinding. Pemain yang pernah kehilangan teman di game—seringkali orang yang belum pernah mereka temui secara offline—menggambarkan akun teman mereka yang udah nggak aktif sebagai “digital remains”. Satu pemain bahkan bilang: “Menghapus nama itu nggak beda kayak buang guci dan abunya, dan semua kenangan di dalamnya” .
Pemain lain nulis: “Nama dia lebih dari sekadar pengingat—itu monumen buat siapa dia, dan siapa yang dia ingin jadi, terutama buat kami” .
Ini bukan sentimentalitas kosong. Ini ikatan yang beneran. Banyak dari mereka nggak pernah ketemu offline. Game adalah satu-satunya tempat hubungan itu ada. Dan ketika orangnya pergi, akun itu jadi satu-satunya tempat kenangan itu berpijak. Bukan foto di rak. Bukan batu nisan. Tapi gamertag yang masih nongol di friend list, dengan status “offline” yang nggak akan pernah berubah jadi “online” lagi.
Nah, di sinilah pasar “memori mati” mulai masuk. Karena ketika sesuatu punya nilai emosional, selalu ada orang yang mau membelinya. Atau menjualnya.
Tiga Kasus yang Bikin Batas Itu Mulai Kabur
Pertama, 87 akun yang jadi warisan—dan sumber penghasilan. Ini kasus yang paling banyak diliput di 2026. Seorang pria bernama Gu meninggal di umur 36 setelah sakit parah. Dia ninggalin 87 akun game terverifikasi yang dia bangun selama lebih dari satu dekade. Ibunya, yang udah kehilangan suami dan hidup dengan penghasilan kecil, baru sadar nilai akun-akun itu setelah ngurus pemakaman anaknya. Dia pengen mewarisinya, sebagian buat menjualnya dan dapet penghasilan tambahan .
Perusahaan game nolak. Alasan klasik: user agreement bilang akun milik perusahaan, user cuma punya “hak terbatas buat menggunakan data.” Tapi pengadilan Beijing memutuskan sebaliknya. Hakim bilang waktu, usaha, dan uang yang diinvestasikan pemain menciptakan nilai ekonomi yang nyata. Akun itu punya “nilai pakai dan nilai transfer,” jadi masuk kategori properti yang bisa diwariskan. Perusahaan diperintahkan ngubah data real-name ke nama ibunya dalam 15 hari .
Keputusan ini penting bukan cuma secara hukum. Tapi secara simbolis: akun game orang meninggal punya harga. Dan ketika sesuatu punya harga, dia bisa dijual. Ibunya nggak ngambil alih akun itu buat main. Dia ngambil alih buat menjualnya. Dan pengadilan membenarkan itu.
Kedua, akun yang “tidur” 13 tahun dan jadi incaran. Di Shanghai, seorang wanita bernama Ye berjuang buat ngambil alih akun game sepupunya, Chen, yang meninggal pada 2014 karena pendarahan otak. Akun itu level 106, penuh equipment langka yang katanya bernilai lebih dari 10.000 yuan (sekitar Rp22 juta). Ibunya Chen—yang sekarang udah 70-an—masih sering mengenang prestasi anaknya di game itu. Ye pengen ngambil akun itu bukan cuma buat mengenang, tapi juga buat memberi dukungan ekonomi ke bibinya .
Masalahnya: akun itu udah 13 tahun nggak pernah login. Komputernya rusak. Nomor HP dan QQ yang terdaftar udah nggak aktif. Verifikasi identitas ditolak karena data nggak cocok. Ye cuma punya potongan kertas lusuh dengan username dan beberapa angka yang udah pudar. Ini contoh nyata gimana memori mati bukan cuma soal emosi, tapi soal akses. Kalau lo nggak punya password, lo nggak punya apa-apa. Bahkan kenangan pun butuh login.
Ketiga, pasar gelap yang nggak kelihatan. Gue nggak punya angka resmi soal berapa banyak akun orang meninggal yang diperdagangkan secara diam-diam. Tapi logikanya sederhana. Kalau akun dengan 87 karakter level tinggi bisa diwariskan dan dijual , maka pasti ada pasar. Mungkin nggak terbuka. Mungkin lewat forum, Discord, atau grup WhatsApp. Tapi pasti ada. Dan yang dijual bukan cuma item atau statistik. Yang dijual adalah jejak seseorang yang udah nggak bisa protes.
Tapi, Jangan Salah Paham: Ini Bukan Cuma Soal Uang
Gue nggak mau ngegambarin ini sebagai cerita hitam-putih tentang kapitalisme yang jahat. Karena kenyataannya lebih rumit.
Di satu sisi, kasus Gu nunjukin sesuatu yang valid. Ibunya butuh uang. Dia hidup sendirian dengan penghasilan kecil. Anaknya ninggalin aset yang, secara hukum dan moral, mungkin memang haknya. Kalau akun-akun itu bisa dijual dan membantu dia bertahan hidup, kenapa nggak? Ini bukan eksploitasi. Ini keadilan ekonomi di ranah digital yang selama ini nggak diakui.
Di sisi lain, ada bahaya nyata ketika memori jadi komoditas. Sebuah makalah akademik tentang “deathbots” dan memori sintetis ngingetin bahwa ketika platform mulai memonetisasi kenangan, yang muncul bukan cuma produk, tapi “memori yang terasa dan dikomodifikasi” . Kenangan nggak lagi soal hubungan lo dengan orang yang udah pergi. Dia jadi data yang bisa dijual, dibeli, dan dioptimasi buat engagement.
Dan yang paling rentan adalah mereka yang nggak tahu. Keluarga yang nggak ngerti bahwa anak mereka punya akun game bernilai. Atau teman guild yang nggak tahu bahwa nama di friend list mereka sebentar lagi bisa berpindah tangan ke orang asing yang beli dari ahli waris.
Kesalahan yang Sering Dilakuin (Dan Bikin Kenangan Hilang)
Pertama: mikir “akun game nggak penting, ah.” Ini kesalahan paling fatal. Sebuah akun bisa bernilai puluhan juta rupiah. Bahkan kalau nilainya kecil, dia adalah satu-satunya jejak bahwa seseorang pernah ada di dunia itu. Kalau lo nggak pernah ngomongin ini sama keluarga, mereka nggak akan tahu harus ngurus apa setelah lo pergi.
Kedua: nggak pernah nulis password atau akses. Ye cuma punya potongan kertas lusuh. Selama 13 tahun, dia berjuang tanpa akses. Kalau sepupunya pernah nulis password di suatu tempat—atau setidaknya ngasih tahu bahwa akun itu ada—semuanya bakal jauh lebih mudah.
Ketiga: percaya kalau platform bakal “menghormati” akun orang meninggal. Steam secara resmi nggak mengizinkan warisan akun. Kalau lo lapor kematian, akun lo dikunci, bukan dipindahin . Beberapa platform mungkin punya kebijakan khusus, tapi jangan berharap. Kalau lo mau akun lo sampai ke orang yang lo cintai, lo harus rencanain sendiri. Platform nggak akan bantu.
Keempat (buat yang ditinggalkan): langsung hapus akun karena “udah nggak ada gunanya.” Jangan. Tunggu. Cek dulu apakah ada nilai ekonomi. Cek apakah ada teman guild yang mungkin mau mengenang. Cek apakah ada cara legal buat mengakses. Menghapus akun orang yang meninggal itu kayak membakar satu-satunya surat wasiat yang pernah dia tulis.
Tips Praktis yang Bisa Lo Lakuin (Malam Ini, Kalau Lo Mau)
Pertama, bikin “digital will” sederhana. Nggak perlu notaris. Cukup tulis di kertas atau dokumen digital: daftar game yang lo mainin, username lo, dan di mana password-nya bisa ditemukan (jangan tulis password-nya langsung di situ—kasih petunjuk). Kasih tahu satu orang yang lo percaya. Bilang: “Kalau gue kenapa-kenapa, ini akun-akun gue. Beberapa mungkin ada nilainya.”
**Kedua, kalau lo punya akun yang beneran berharga, pertimbangin buat dokumentasiin nilainya. Screenshot inventory, statistik, atau postingan di forum yang nunjukin nilai akun lo. Kalau suatu hari ahli waris lo perlu bukti ke pengadilan atau platform, dokumentasi ini bisa jadi penyelamat.
Ketiga, buat yang ditinggalkan: jangan buru-buru hapus. Kalau lo punya teman di game yang meninggal, dan lo nggak tahu keluarganya, pertimbangin buat simpan nama itu di friend list. Bukan buat dijual. Tapi buat diinget. Dan kalau lo tahu keluarganya, kasih tahu mereka bahwa akun itu ada. Mereka mungkin nggak tahu. Mereka mungkin butuh.
Keempat, kalau lo serius soal nilai ekonomi: cari tahu hukum di negara lo. Di Indonesia, KUHPerdata Pasal 830 dan 832 bilang harta yang punya nilai ekonomi bisa diwariskan. Akun game, secara prinsip, masuk kategori itu—setidaknya sisi ekonomisnya. Tapi platform sering nolak. Kalau lo mau memperjuangkan ini, lo butuh pengacara dan bukti nilai .
Jadi, Gimana?
Pasar “memori mati” di 2026 bukan cuma tentang uang. Ini tentang apa yang tersisa setelah seseorang pergi. Di dunia nyata, kita punya makam, foto, barang-barang. Di dunia digital, kita punya akun. Gamertag. Friend list yang statusnya “offline” selamanya. Item yang dulu dia banggain. Dan ketika semua itu mulai diperdagangkan—entah secara legal lewat pengadilan, atau diam-diam lewat pasar gelap—kita dihadapkan pada pertanyaan yang nggak nyaman: apakah kenangan bisa dijual tanpa kehilangan maknanya?
Gue nggak punya jawaban pasti. Tapi gue tahu satu hal. Kalau lo punya teman di game yang udah pergi, dan lo masih simpan nama mereka di friend list, lo nggak sendirian. Ada banyak orang di luar sana yang ngelakuin hal yang sama. Bukan karena mereka nggak bisa move on. Tapi karena mereka nggak mau. Dan mungkin, di dunia yang serba bisa dijual ini, itu adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang tersisa.
Pertanyaannya sekarang: kalau lo pergi besok, apa yang bakal tersisa dari lo di dunia digital? Dan siapa yang bakal menjaganya?